Advertise

More on this category »

Latest Post

Taman Wisata Bukit Kelam

Written By Natalius Abidin on Jumat, 23 September 2011 | 01.45


Kawasan Wisata Bukit Kelam yang berada di wilayah Kecamatan Kelam Permai merupakan kawasan wisata alam perbukitan yang memiliki keindahan yang sangat eksotik.
Hutan wisata Bukit Kelam berada diantara dua sungai besar yaitu Sungai Melawi dan Sungai Kapuas dan termasuk didalam Sub DAS Melawi dimana keberadaan hutan wisata tersebut merupakan kawasan sumber air yang mengalir sebagai sungai yang dimanfaatkan penduduk setempat untuk keperluan air minum, MCK dan irigasi.

Berdasarkan hasil survey dikawasan ini sangat sangat cocok untuk olahraga terbang layang dan panjat tebing karena terletak pada ketinggian 50 - 900 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 15° - 40° serta kemiringan diatas 45°. Pohon yang tumbuh dikaki bukit umumnya berbatang tinggi, sedangkan dipuncaknya ditumbuhi semak semak. Pada dinding bukit jarang ditumbuhi tumbuhan karena terdiri dari batu terjal sehingga pepohonan yang yang tumbuh dan tertata rapi didalam jambangan.

Di Bukit ini juga terdapat tumbuh-tumbuhan langka seperti Kantong Semar Raksasa yang oleh masyarakat setempat dipergunakan sebagai wadah untuk menanak nasi, selain itu juga terdapat Anggrek Hitam. Saat ini kawasan Bukit Kelam sudah direnovasi dan kawasan ini dijadikan sebagai Pusat Perkemahan bagi pramuka. Untuk mencapai puncak Bukit Kelam saat ini sudah dibangun sebuah tangga dengan ketinggian ± 90 m yang terletak disebelah barat. Kawasan Bukit Kelam saat ini terus dikembangkan karena punya rentetan perbukitan lainnya seperti Bukit Luit dan Bukit Rentab. Selain itu juga kawasan ini sangat baik jika dibangun tempat peristirahatan yang nantinya dapat dikembangkan menjadi desa wisata yang menarik dan unik.
Hal ini juga tidak terlepas dari keberadaan dua rumah panjang didekat lokasi perbukitan ini yaitu Rumah Panjang Ensaid Pendek dan Ensaid Panjang.

Bagi pengunjung yang suka bertualang menghadapi tantangan alam dan merindukan pemandangan alam yang asli maka Bukit Kelam adalah tempat yang cocok dalam memenuhi selera anda. Pendakian ke puncak bukit dapat ditempuh melalui dua cara yakni dengan mengunakan tangga atau melalui Tebing Batu yang sangat terjal dan menantang.


Dari Puncak Bukit dapat terlihat pemandangan alam yang sangat indah seperti :


~ Hutan tropis dan berbagai jenis tanaman langk. 
~ Dua aliran sungai yang mengapit Kota kabupaten 
~ Hamparan Kota Sintang dan persawahan yang ada dibawahnya.

Yang kesemuanya merupakan pemandangan alam yang sangat menakjubkan dan memukau. Bagi anda yang berkeinginan berkunjung kesana dapat i melalui transportasi darat dengan jarak dari Kota 18 Km.


Cara menjangkau :



Nama objek : Bukit Kelam
Dijangkau dari : Ibu kota Kabupaten
Kendaraan : Kendaraan umum
Fasilitas : Jalan lingkar bukit, Tangga untuk mencapai bukit
Keterangan : 

- dari ibukota Kabupaten : 19 Km
- dari jalan lingkar bukit : 10 Km



Air Terjun Melanggar


Air terjun Melanggar di Dusun Perbuah, Desa Marayuh misalnya, orang harus ke Desa Serimbu, ibu kota Kecamatan Air Besar, yang jaraknya kira-kira 260 km dari Pontianak. Bila memakai kendaraan umum, pengunjung harus berhenti di terminal kota Kecamatan Ngabang (sekitar tiga jam dari kota Pontianak). Dari sana, dapat menggunakan kendaraan desa ke Desa Serimbu (sekitar 56 km dari Ngabang), dengan waktu tempuh sekitar dua jam lebih. Dari Desa Serimbu, perjalanan ke Air Terjun Melanggar dilanjutkan dengan perahu motor berkecepatan 13 km/jam dengan kekuatan mesin 9,9 PK. Ongkosnya sekitar Rp 100.000 sekali jalan. Perjalanan melintasi Sungai Landak ini menempuh waktu sekitar dua setengah jam, itu pun harus melewati sejumlah riam. Di kiri-kanan sepanjang perjalanan melintas di Sungai Landak, yang yang dapat disaksikan adalah hutan belantara yang hijau. Sesekali terlihat penduduk desa mandi dan mencuci di sungai. Jarang sekali bertemu perahu motor yang seiring atau berlawanan arah. 


Air Terjun Melanggar merupakan patahan Sungai Landak. Ketinggiannya sekitar 40 meter. Di atasnya terdapat dahan pepohonan, yang menurut warga setempat, sudah bertahun-tahun ada di sana dan tidak jatuh atau hanyut. Air terjun itu dikelilingi Gunung Pejapa (1.019 m). Di seberang sungai, terdapat Gua Sanjan yang bisa dicapai setelah melintasi jalan setapak sekitar 4 km. Rute ini biasa digunakan penduduk setempat untuk membawa hasil bumi ke kota kecamatan terdekat dengan perahu motor. Gua ini pun diwarnai air terjun kecil, yang jatuh ke dalam sungai kecil.

Istana Sambas


Istana Sambas yang ada sekarang, dibangun oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim tahun 1933, ditempati 6 juli 1935. Biaya pembangunan Istana sambas sebesar 65. Golden, dari bantuankredit Sultan Kutai. Pembangunan dilaksanakan pemborong Tjin Nyuk dari Pontianak. Dengan luas bangunan berukuran panjang 9,50 meter dan berukuran lebar 8,05 meter. 


Ditepian Muara Ulakan simpang tiga pertemuanSungai Sambas kecil, Sungai Subah, Sungai Teberau, sekarang di Desa Dalam Kaum, Kecamatan sambas sejak dahulu telahberdiri Istana Kesultanan Sambas (1632) didirikan oleh Raden Bima gelar Sultan Muhammad Tajuddin, Sultan Sambas ke-2. Dipinggir sungai, terdapat sebuah tangga jembatan biasa disebut dengan seteher, tempat singgahan sampan atau perahu dan kendaraan air yang banyak di sungai Sambas. 

Naik ke daratan di pinggir sungai, terdapat jalan masuk ke halaman Istana. Sebelum masuk kita akan melalui sebuah gerbang pintu masuk ke halaman Istana yang dinamakan gerbang Segi Delapan. Pintu masuk gerbang bersegi delapan yang jauhnya dari pinggir sungai lebih kurang 30 meter. Gerbang bersegi delapan bertingkat dua itu dahulu digunakan untuk : 

- Bagian bawah tempat penjaga dan tempat istirahat rakyat yang berkunjung ke istana sebelum memasuku halaman istana. 

- Bagian atas untuk tmpat mengatur penjagaan dan apabila ada keramaian dipergunakan untuk menabuh gamelan dan alat-alat kesenian. Arti dari segi delapan adalah delapan penjuru mata angin, dan sebagai mengenang jasa pendiri keraton yang ada sekarang adalah Sultan, Sultan Muhammad Syafiuddin II. Atap bangunan segiempat sebagai simbul bagi Sultan mengikuti sifat Rasullulah yakni : Siddiq (benar), Amanah (keprcayaan), Tabligh (menyampaikan) dan Pathonah (sempurna). Setelahmelalui pintu grbang pertama, ditemukan sebuah tiang bendera di tengah halaman, untuk menaikan bendera kesultanan yang berwarna kuning emas setiap hari besar pada zaman dulu. 

Tiang yang bertopang empat yang berarti Sultan diabntu oleh empat orang pembantu yang disebut wazir. Dibawah tiang bendera terdapat 3 buah meriam kuno hadiah dari tentara Inggris tahun 1813 menghargai kepahlawanan putera Pangeran Anom melawan inggris. Salah satu disebut Si Gantar Alam. Disisnilah seorang pejuang bernama Thabrani Akhmad telah gugur ditembus peluru penjajah Belanda karena membela mempertahankan bendera merah putih. 

Dan diabadikan dengan monumen baru " Di tempat ini tanggal 27 Oktober 1945 telah gugur seorang pejuang kemerdekaan disaat akanmengibarkan bendera merah putih". Disamping kiri masuk, tidak jauh dari tiang bendera terdapat pohon kayu putih, untuk mengenang peristiwa selesai perang Sungkung pada tahun 1883. Ditanam atas perintah sultan dan Pangima Daud dan Panglima Bakar.

Tugu Khatulistiwa

Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Tugu Khatulistiwa merupakan ikon Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, terutama wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Adapun sejarah mengenai pembangunan Tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung. Dalam catatan tersebut disebut bahwa pada bulan Maret 1928 telah datang rombongan expedisi internasional yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak equator di kota Pontianak. Adapun bentuk dari tugu ini telah mengalami perubahan sebanyak 4 (empat) kali yaitu :
·        Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
·        Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkaran dan anak panah.
·        Pada tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat di dalam gedung.
·        Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
Bangunan tugu terdiri dari 4 (empat) buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 m dengan ketinggian tonggak bagian depan setinggi 3,05 m dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 m.. Diameter lingkaran ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR, tulisan plat dibawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya Tugu Khatulistiwa pada garis Bujur Timur.
Peristiwa penting dan menakjubkan di Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik Kulminasi matahari, yaitu fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis Khatulistiwa. Pada saat itu matahari tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Pada peristiwa titik kulminasi tersebut, bayangan Tugu akan “menghilang” beberapa detik saat terkena sinar matahari, demikian juga dengan bayangan-bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.
Peristiwa Titik Kulminasi Matahari terjadi 2 (dua) kali dalam setahun yaitu antara tanggal 21 sd. 23 Maret dan 21 sd. 23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan Kota Pontianak yang menarik minat wisatawan untuk datang ke Pontianak

Taman Nasional Betung Kerihun

Written By Natalius Abidin on Kamis, 22 September 2011 | 22.38



TAMAN Nasional Betung Kerihun (TNBK) adalah kawasan konservasi terbesar di Provinsi Kalimantan Barat yang secara administrative termasuk ke dalam Kabupaten Kapuas Hulu dengan luas wilayah + 800.000 ha. meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu, Kecamatan Embaloh Hulu, Kecamatan Embaloh Hilir, Kecamatan Putussibau Utara, dan Kecamatan Putusibau Selatan.
TNBK sangat kaya akan keanekaragaman hayati, keindahan alam, dan keunikan budaya masyarakat didalamnya. ribuan jenis flora dan fauna endemik Kalimantan telah teridentifikasi dan puluhan jenis lainnya merupakan jenis baru. Keanekaragaman sumber daya yang tinggi ini merupakan potensi yang besar untuk dikembangkan guna kesejahteraan masyarakat terutama penduduk setempat. Menurut Iswandi, SE fungsional perencana muda Disbudpar Prov Kalbar, potensi yang dimilikinya Taman Nasional Betung Kerihun merupakan benteng kehidupan di jantung Kalimantan. Hal ini sejalan dengan Branding Visit Kalbar 2010 yang digagas Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat yaitu:” KALBAR THE HEART OF BORNEO”.
Selain keanekaragaman hayati yang tinggi, kawasan TNBK juga memiliki kekayaan budaya yang beragam meliputi 7 (tujuh) sub etnis Dayak. Penduduk asli di kawasan sekitar TNBK adalah tergolong kelompok etnik Dayak yang terdiri dari Dayak Iban, Tamambaloh, Taman Sibau, Hovongan. Hanya kelompok Punan Hovongan yang bermukim di dalam kawasan TNBK dan mereka salah satu kelompok Dayak yang memiliki empat tipologi berbagai kelompok Dayak di seluruh Kalimantan (Borneo).
Lebih dari 1.000 KK dari etnis Dayak yang bermukim di sekitar kawasan TNBK, mereka hidup berbaur dengan beragam etnis lain diantaranya etnis – Melayu, Jawa dan Tionghoa. Menurut-nya-, Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) merupakan kawasan yang memegang fungsi vital bagi kehidupan manusia, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. Nilai penting kawasan TNBK dimaksudkan sebagai Benteng Biodiversitas : Meliputi luas kawasan + 800.000 ha dengan ragam tipe ekosistemnya yang terbentang pada ketinggian di atas 150 – 2.000 m dpl (di atas permukaan laut) merupakan salah satu benteng biodiversitas di Indonesia bahkan di dunia. Pengatur Tata Air: Secara keseluruhan TNBK menyum-bang sebanyak 8,1 % dari seluruh Daerah Aliran Sungan (DAS) utama Kapuas di Kalimantan Barat yang mempunyai catchment area seluas 9.874.910 ha. Tidak Kurang dari 60 % tangkapan air di dalam kawasan merupakan sumber air bagi danau dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.
Taman Nasional Model
Pada Tingkat Nasional, TNBK berdampingan dengan 19 Taman Nasional lain di Indonesia menjadi sebuah Taman Nasional Model. Sebagai Taman Nasional Model, TNBK mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah terkait upaya konservasi yang dilakukan.

Fokus Kegiatan Internasional: TNBK merupakan Kawasan Konservasi Lintas Batas (Transfrontier Reserve) pertama di Asia, dimana TNBK berbatasan langsung dengan Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary (LEWS) di Sarawak, Malaysia. Selain itu TNBK juga merupakan salah satu dari 20 Taman Nasional Model di Indonesia.
Kawasan TNBK juga merupakan salah satu fokus penting dalam aktivitas program Heart of Borneo (HoB) yang melibatkan 3 (tiga) Negara, yaitu : Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK.120/ IV-KK/2009 tanggal 15 Juli 2009, kawasan TNBK terbagi dalam 6 (enam) zona yaitu:
Zona Inti, seluas 385.368 ha (48,17 %) meliputi DAS Embaloh 120.343 ha, DAS Sibau 61.291 ha, DAS Mendalam 32.120 ha dan DAS Kapuas 171.615 ha. Zona ini merupakan kawasan dengan lima tipe ekosistem yang memiliki tingkat kerentangan tinggi karena merupakan daerah tangkapan air utama.
Selain itu zona ini juga merupakan habitat dari spesies kunci kawasan TNBK yaitu orang hutan (Pongo pygmaeus), burung dari kerabat Bucerotidae dan habitat dati ikan Semah.

Zona Rimba, seluas 231.529 ha (28,94 %) meliputi DAS Embaloh 59.806 ha, DAS Sibau 52.227 ha. DAS Mendalam 43.845 ha, dan DAS Kapuas 76.012 ha. Zona Rimba TNBK merupakan kawasan yang berpotensi menjadi Areal Wisata terbatas dan Minat Khusus. Selain itu zona ini merupakan daerah jelajah dari berbagai satwa liar di kawasan TNBK serta merupakan persinggahan dari burung-burung migran.
Zona Pemanfaatan , seluas 24.859 ha (3,11 %) meliputi DAS Embaloh 7.170 ha, DAS Sibau 7.425 ha, DAS Mendalam 2.160 ha, dan DAS Kapuas 8.104 ha.
Zona ini menyimpan potensi berupa lokasi-lokasi pengembangan wisata alam, berupa gua, air terjun, pegunungan karst, sungai dengan riam-riam serta rute hiking.

Zona Tradisional, seluas 143.894 ha (17, -99 %) meliputi DAS Embaloh 28.250 ha, DAS Sibau 6.369 ha, DAS Mendalam 16.398 ha, dan DAS Kapuas 92.876 ha.
Zona ini dibentuk sebagai zona pemenuhan kebutuhan protein dan hasil hutan non kayu (rotan, getah, jelutung, sarang Wallet) bagi masyarakat di sekitarnya.

Zona Religi, Budaya dan Sejarah, seluas 10.196 ha (1,27%) meliputi DAS Embaloh 4.182 ha, DAS Kapuas 6.014 ha. Zona Ini terdapat berbagai potensi peninggalan sejarah dan situs budaya dalam bentuk makam leluhur masyarakat Dayak yang dinamakan Tembawang”.
Zona Khusus (Pemukiman) seluas 4.154 ha (0,52 %) meliputi DAS Kapuas 3.905 ha dan DAS Mendalam 249 ha. Zona ini terdiri dari kawasan pemukiman penduduk (desa Tanjung Lokang di DAS Kapuas) dan ladang masyarakat Dayak Bukat pada DAS Sungai Mendalam. (ris/edi)


Source : http://www.kalbariana.net/kawasan-konservasi-destinasi-wisata
Image Source : http://kalbar-online.com/news/metropolitan/balai-besar-tnbk-gagas-desa-konservasi

Taman Nasional Gunung Palung

Kawasan Taman Nasional Gunung Palung secara historis ditunjuk sebagai kawasan suaka alam melalui Staat Blaad No.4/13IB/1937 tanggal 29 April 1937 dengan luas 30.000 Ha, kemudian melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 1014/Kpts/ VIII/12/1981 tanggal 10 Desember 1981 luas kawasan Taman Nasional Gunung Palung berubah menjadi 90.000 Ha dengan menunjuk kelompok hutan (kawasan perluasan) yaitu Gunung Kepayang, Gunung Seberuang, Sei Lekahan Batu dan sekitarnya dengan status kawasan berubah menjadi Suaka Margasatwa Gunung Palung.

Berdasarkan pernyataan Menteri Kehutanan Nomor : 448/Menhut-VI/1990 tanggal 6 Maret 1990 Kawasan Suaka Margasatwa Gunung Palung dideklarasikan menjadi Taman Nasional Gunung Palung yang secara geografis terletak diantara 010 00- 000 20’Lintang Selatan dan 109000’– 110025’Bujur Timur dan secara administratif pemerintahan terletak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Kawasan ini memiliki 7 (tujuh) tipe ekosistem yang terdiri atas:
- Hutan Mangrove : ekosistem ini dapat dijumpai di bagian barat kawasan, seperti sekitar Sukadana dan Batu Barat.
- Hutan Tanah Aluvialekosistem ini dapat dijumpai di bagian barat kawasan, yaitu di sekitar Gunung Peramas dan Gunung Lobang Tedong Sukadana.
- Hutan Hujan Tropis Dataran RendahVegetasi di ekosistem ini didominasi oleh jenis-jenis medang (Litsea sp), meranti (Shorea sp), Bintangor (Callophylum sp) dan Ubah Besi.
- Hutan GambutEkosistem hutan ini berada diatas kawasan dimana air menggenang dalam keadaan asam dengan pH rata-rata 3,5 – 4,0.Tumbuhan yang hidup pada ekosistem ini adalah jenis-jenis Shorea sp, Ramin (Goniystylus bancanus), Dacrydium sp., Calophyllum sp., dan Alstonia sp.
- Hutan Rawa: ekosistem ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hutan rawa air tawar oligothropik dan hutan rawa air tawar eutropik. Vegetasi yang biasa ada di ekosistem ini adalah pohon-pohon yang tajuknya berlapis-lapis dan mampu mencapai ketinggian 50-60 meter, antara lain Jelutung (Dyera sp), Adina sp, Alstonia sp, Ficus retusa, dan Pandanus sp.
- Hutan PegununganHutan pegunungan atau biasa disebut hutan montana dapat ditemukan pada ketinggian antara 400 – 800 meter dari permukaan laut, biasanya ekosistem ini terdapat di beberapa puncak bukit yang rendah atau di lereng gunung. Jenis pohon dominan disini antara lain Kayu Medang (Hopea ferruginea), Pakit Tengkauang (Shorea sp), dan Bintangor Padang (Callophyllum grandifloris).
- Hutan Sub AlpinDi tipe ekosisten ini terdapat di Puncak Gunung Palung (1.116 mdpl) dan Gunung Panti (1.050 mdpl). Vegetasinya didominasi oleh lumut-lumutan, ganggang, anggrek, Kantong Semar dan paku-pakuan.

POTENSI FLORA FAUNA

FLORA
- Kantong Semar (Nephentes, sp) : Kantong Semar merupakan tumbuhan hijau yang hanya tumbuh di daerah tropis, tumbuhan ini biasanya tumbuh di hutan karangas, hutan rawa gambut, dan hutan di puncak pegunungan.
- Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata): mempunyai daya tarik yang sangat tinggi, sehingga jenis anggrek ini mempunyai reputasi secara internasional. Sebagai tanaman epifit, Anggrek Hitam tumbuh pada batang dan daun tumbuhan lain. Anggrek ini juga bisa hidup diatas tanah yang penuh serasah yang telah membusuk.
- Gaharu (Aquilaria malaccensis)Di Taman Nasional Gunung Palung, Pohon penghasil Gaharu yang sering ditemui adalah Aquilaria malaccensis, pohon ini mempunyai ciri khusus, yaitu : daun tunggal dan menyebar, pertulangan sekunder tidak jelas, ujung daun melancip, permukaan bawah daun mengkilat dan berwarna hijau pucat.
FAUNA
- Orangutan (Pongo pygmaeus)Orangutan hidup dan tersebar di hutan-hutan banyak di tumbuhi tanaman dari family Dipterocarpaceae.Orangutan tidur di dalam sarang, umumnya sarang berdiameter berkisar antara 1-2,5 meter dan ketinggian 10-30 meter. Orangutan dewasa lebih bersifat soliter, sedangkan Orangutan betina biasa berkelompok dengan kerabat yang masih satu keturunan. Anggota kelompok orangutan tidak melebihi lima individu.
- Bekantan (Nasalis larvatus)Satwa ini hidup endemik di Taman Nasional Gunung Palung dan hutan-hutan di kepulauan Kalimantan. Tidak heran, apabila Bekantan (Nasalis larvatus) dan Orangutan (Pongo pygmaeus) menjadi satwa primadona Taman Nasional Gunung Palung.
- Krabuku Ingkat (Tarsius bancanus): Krabuku adalah salah satu jenis primata berukuran kecil, merupakan jenis primata terkecil di dunia dengan berat tubuh hanya 10 gram. Satwa ini hidup aktif pada malam hari, sehingga biasa disebut satwa nokturnal. Makanan utama Tarsius adalah serangga besar, seperti semut, ulat, belalang, dan kecoa. Primata ini umumnya sering ditemukan di hutan yang ditumbuhi banyak penunjang kecil vertikal, seperti jahe liar dan pepohonan kecil.
- Klempiau (Hylobates agilis): Klampiau (Hylobates agilis) merupakan salah satu satwa liar yang hidup di Pulau Kalimantan, satwa ini termasuk dalam bangsa kera manusia dan biasa disebut dengan kera berlengan panjang. Satwa ini umumnya ditemukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 1 jantan dewasa, 1 betina dewasa, dan 1 - 3 anak. Tiap kelompok mempertahankan wilayahnya seluas 20 – 30 hektar. Makanan Klampiau terdiri dari buah-buahan berdaging yang masak, dedaunan muda, dan serangga kecil. Primata ini biasanya hanya ditemukan di hutan yang tinggi dan hutan Dipterocarpaceae.
POTENSI WISATA
Air Terjun Riam Berasap: Air terjun Riam Berasap merupakan daya tarik utama wisatawan pada site ini. Air terjun ini mengalir dan pada bagian hilir sering disebut masyarakat sebagai Sungai Siduk. Tinggi air terjun mencapai 10 m dengan lebar 5 m. Jatuhan air terjun membentuk kolam dengan luasan mencapai 300 m². Air terjun yang jatuh menyebabkan percikan air yang seakan-akan terlihat seperti asap. Oleh karena itu, air terjun ini dinamakan Riam Berasap. Badan sungai yang berbatu menambah keindahan panorama sungai dengan airnya yang jernih dan ikan-ikan khas yang berwarna-warni bisa kita lihat di sepanjang aliran sungai Siduk.
Riam BekinjilSepanjang Sungai Siduk ini banyak kita jumpai riam-riam, salah satunya Riam Bekinjil yang tidak kalah menariknya dengan Riam Berasap. Riam Bekinjil ini terletak di bagian hilir Riam Berasap. Badan sungai yang berbatu dan aliran yang deras dengan suara gemuruh yang ditimbulkannya memberikan nuansa alam yang indah.
Riam Kurung PelandukRiam lain di sepanjang aliran Sungai Siduk adalah Riam Kurung Pelanduk. Pemandangan di sekitar riam ini cukup menarik, dengan suara aliran sungai yang terdengar dari kejauhan. Bebatuan alami di aliran sungai mempercantik pemandangan di sekitar Riam Kurung Pelanduk.
Puncak Gunung PantiPuncak Gunung Panti mempunyai tipe ekosistem sub-alpin dengan tumbuhan yang semakin sedikit ragamnya dan diselimuti oleh lumut, udara yang semakin dingin, dan topografi yang makin terjal. Untuk mencapai puncak Panti sudah ada jalur pendakiaan sederhana dari Camp Penelitian Cabang Panti. Waktu tempuh yang diperlukan dari camp Cabang panti ke Puncak Gunung Panti + 6 jam dengan jalan kaki. Kegiatan ekowisata ke puncak panti sangat ideal bagi pelaku ekowisata yang menggemari kegiatan treking karena lokasinya yang cukup jauh dan keadaan hutannya yang masih bagus.
Air Terjun PantiSumber air berasal dari mata air di Gunung Panti. Air ini mengalir di bebatuan pegunungan yang terjal sehingga membentuk aliran yang memotong tebing. Air yang jatuh inilah yang biasanya disebut air terjun. Formasi bebatuan yang dialiri air ini merupakan fenomena alam yang sangat menarik untuk dinikmati disamping keadaan udara yang masih segar dan penutupan hutan yang masih bagus serta kehidupan satwa liar yang relatif tidak terganggu.

Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya




Kawasan hutan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya didominir oleh puncak-puncak pegunungan Schwaner. Keberadaan pegunungan tersebut merupakan perwakilan dari tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan dengan kelembaban relatif tinggi (86%).
Tercatat 817 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 139 famili diantaranya Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, dan Ericadeae. Selain terdapat tumbuhan untuk obat-obatan, kerajinan tangan, perkakas/bangunan, konsumsi, dan berbagai jenis anggrek hutan. Terdapat bunga raflesia (Rafllesia sp.) yang merupakan bunga parasit terbesar dan juga tumbuh di Gunung Kinibalu Malaysia. Tumbuhan endemik antara lain Symplocos rayae, Gluta sabahana, Dillenia beccariana, Lithocarpus coopertus, Selaginnella magnifica, dan Tetracera glaberrima.

Satwa mamalia yang dapat dijumpai antara lain macan dahan (Neofelis nebulosa), orangutan (Pongo satyrus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung merah (Presbytis rubicunda rubicunda), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rusa sambar (Cervus unicolor brookei), bajing terbang (Petaurista elegans banksi), dan musang belang (Visvessa tangalunga).
Jenis burung yang menetap di taman nasional ini antara lain enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkok badak (Buceros rhinoceros borneoensis), enggang hitam (Anthracoceros malayanus), delimukan zamrud (Chalcophaps indica), uncal kouran (Macropygia ruficeps), kuau raja (Argusianus argus grayi), dan kuau kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri). Kuau kerdil merupakan satwa endemik pulau Kalimantan yang paling terancam punah akibat kegiatan manusia di dalam hutan.

Masyarakat asli yang berada di sekitar taman nasional merupakan keturunan dari kelompok suku Dayak Limbai, Ransa, Kenyilu, Ot Danum, Malahui, Kahoi dan Kahayan. Karya-karya budaya mereka yang dapat dilihat adalah patung-patung kayu leluhur yang terbuat dari kayu belian, kerajinan rotan/bambu/pandan dan upacara adat.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:Bukit Baka. Pendakian, menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan. Bukit ini mempunyai ketinggian 1.620 meter dpl, dan sering ditutupi kabut dengan suhu udara antara 15° - 20°C. Puncak Bukit Baka dapat ditempuh sekitar tujuh jam perjalanan dari Dusun Nanga Juoi Kecamatan Manukung.
Bukit Raya. Pendakian, menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan, wisata budaya. Ketinggian Bukit Raya sekitar 2.278 meter dpl, suhu udara antara 7° - 10°C. Lama pendakian dari Nanga Jelun-dung, dusun Rumokoy, Mihipit, Hulu Labang, Birang Merabai sampai ke puncak bukit sekitar 3-4 hari.
Sungai Senamang, Sepan Apui dan Sungai Ella. Arung jeram, sumber air panas, padang pengembalaan rusa, pengamatan satwa dan air terjun.



Atraksi budaya di luar taman nasional:Kaburai. Stasiun Pelatihan dan Penelitian Kehutanan yang terletak di Dusun Kaburai. Tumbang Gagu. Melihat rumah panjang tradisional suku Dayak (Betang).
Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d September setiap tahunnya

Cara pencapaian lokasi :Cara pencapaian lokasi: Pontianak-Sintang-Nanga Pinoh (mobil), 460 km selama sembilan jam dan dilanjutkan ke Nanga Nuak dengan speedboat selama 2,5 jam. Dari Nanga Nuak ke lokasi taman nasional selama dua jam dengan mobil. Atau dari Palangkaraya-Kasongan menggunakan mobil selama 1,5 jam, dilanjutkan menggunakan speedboat selama tiga jam menuju Tumbang Samba, dan ke Tumbang Hiran selama tiga jam dan ke Tumbang Senamang dan Kutuk Sepanggi selama dua dan empat jam.


Source : http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_bukitbaka.htm

Taman Nasional Danau Sentarum

Taman Nasional Danau Sentarum merupakan salah satu obyek wisata yang ada di kabupaten kapuas hulu yang telah diakui oleh dunia internasional. Secara geografis terletak antara 045'-0102’ Lintang Utara dan 11157'-11220’ Bujur Timur. Taman Nasinal Danau Sentarum terletak di Kecamatan Semitau, Kecamatan Batang Lupar, Kecamatan Badau, dan Kecamatan Selimbau.
Keadaan topografi Taman Nasional Danau Sentarum pada umumnya dataran rendah dengan cekungan yang terendam air. Ketinggian berkisar 50-100 m dpl.
Secara umum, di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum terdapat beberapa type hutan rawa, antara lain : hutan rawa kerdil, hutan rawa terhalang, hutan rawa Kawi - Kamsia, hutan rawa tegakan, hutan rawa Ramin - Mentangur - Kunyit, selain hutan rawa terdapat pula hutan tepian yang didominasi jenis rengas Gluta rengas, hutan perbuktian yang didominasi oleh jenis Dipterocarpacea, dan hutan kerakas.
Taman Nasinal Danau Sentarum memiliki berbagai jenis satwa liar yang sangat beranekaragam, dan diantaranya adalah : Pongo pygmaeus (Pongo Pygmaeus), Siamang/ungka (Hylobates muelleri), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Bekantan (Nasalis larvatus), Babi hutan (Sus Barbatus), Beruang madu (Helarctos malayanus), Bajing (Callosciurus notatus), Layang-layang (Hirundapus giganteus), dan berbagai jenis ikan seperti : Arowana (Sclerophages formosus), Linut (Sundasalanx cf. Microps), Seluang (Rasbora spp.), Belida (Notopterus borneensis), Baung (Mystus nemuzus), Tebirin (Belodontichthys dinema), dan lain sebagainya yang hingga saat ini belum diketahui nama ilmiahnya.
Disamping keadaan alamnya sendiri yang potensial sebagai tempat wisata juga terdapat beberapa obyek yang dapat dinikmati, antara lain : pemandangan/panorama alam danau yang luas dan tenang, gejala alam, nilai dan sejarah.
Kawasan Taman Nasinal Danau Sentarum dapat dicapai dengan menggunakan bis umum menuju Kabupaten Sintang 8 km atau dengan pesawat udara 1 jam dan dari Sintang ke Semitau 4 jam pakai speed boat, dari Semitau ke pusat lapangan 1,5 jam dengan speed boat 40 HP. Waktu kunjungan bisa setiap saat dan tidak tergantung pada cuaca.


Source : http://www.kapuashulukab.go.id/link_danau.html