Advertise

Home » , , » Taman Nasional Gunung Palung

Taman Nasional Gunung Palung

Written By Natalius Abidin on Kamis, 22 September 2011 | 22.32

Kawasan Taman Nasional Gunung Palung secara historis ditunjuk sebagai kawasan suaka alam melalui Staat Blaad No.4/13IB/1937 tanggal 29 April 1937 dengan luas 30.000 Ha, kemudian melalui SK Menteri Pertanian Nomor : 1014/Kpts/ VIII/12/1981 tanggal 10 Desember 1981 luas kawasan Taman Nasional Gunung Palung berubah menjadi 90.000 Ha dengan menunjuk kelompok hutan (kawasan perluasan) yaitu Gunung Kepayang, Gunung Seberuang, Sei Lekahan Batu dan sekitarnya dengan status kawasan berubah menjadi Suaka Margasatwa Gunung Palung.

Berdasarkan pernyataan Menteri Kehutanan Nomor : 448/Menhut-VI/1990 tanggal 6 Maret 1990 Kawasan Suaka Margasatwa Gunung Palung dideklarasikan menjadi Taman Nasional Gunung Palung yang secara geografis terletak diantara 010 00- 000 20’Lintang Selatan dan 109000’– 110025’Bujur Timur dan secara administratif pemerintahan terletak di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.
Kawasan ini memiliki 7 (tujuh) tipe ekosistem yang terdiri atas:
- Hutan Mangrove : ekosistem ini dapat dijumpai di bagian barat kawasan, seperti sekitar Sukadana dan Batu Barat.
- Hutan Tanah Aluvialekosistem ini dapat dijumpai di bagian barat kawasan, yaitu di sekitar Gunung Peramas dan Gunung Lobang Tedong Sukadana.
- Hutan Hujan Tropis Dataran RendahVegetasi di ekosistem ini didominasi oleh jenis-jenis medang (Litsea sp), meranti (Shorea sp), Bintangor (Callophylum sp) dan Ubah Besi.
- Hutan GambutEkosistem hutan ini berada diatas kawasan dimana air menggenang dalam keadaan asam dengan pH rata-rata 3,5 – 4,0.Tumbuhan yang hidup pada ekosistem ini adalah jenis-jenis Shorea sp, Ramin (Goniystylus bancanus), Dacrydium sp., Calophyllum sp., dan Alstonia sp.
- Hutan Rawa: ekosistem ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hutan rawa air tawar oligothropik dan hutan rawa air tawar eutropik. Vegetasi yang biasa ada di ekosistem ini adalah pohon-pohon yang tajuknya berlapis-lapis dan mampu mencapai ketinggian 50-60 meter, antara lain Jelutung (Dyera sp), Adina sp, Alstonia sp, Ficus retusa, dan Pandanus sp.
- Hutan PegununganHutan pegunungan atau biasa disebut hutan montana dapat ditemukan pada ketinggian antara 400 – 800 meter dari permukaan laut, biasanya ekosistem ini terdapat di beberapa puncak bukit yang rendah atau di lereng gunung. Jenis pohon dominan disini antara lain Kayu Medang (Hopea ferruginea), Pakit Tengkauang (Shorea sp), dan Bintangor Padang (Callophyllum grandifloris).
- Hutan Sub AlpinDi tipe ekosisten ini terdapat di Puncak Gunung Palung (1.116 mdpl) dan Gunung Panti (1.050 mdpl). Vegetasinya didominasi oleh lumut-lumutan, ganggang, anggrek, Kantong Semar dan paku-pakuan.

POTENSI FLORA FAUNA

FLORA
- Kantong Semar (Nephentes, sp) : Kantong Semar merupakan tumbuhan hijau yang hanya tumbuh di daerah tropis, tumbuhan ini biasanya tumbuh di hutan karangas, hutan rawa gambut, dan hutan di puncak pegunungan.
- Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata): mempunyai daya tarik yang sangat tinggi, sehingga jenis anggrek ini mempunyai reputasi secara internasional. Sebagai tanaman epifit, Anggrek Hitam tumbuh pada batang dan daun tumbuhan lain. Anggrek ini juga bisa hidup diatas tanah yang penuh serasah yang telah membusuk.
- Gaharu (Aquilaria malaccensis)Di Taman Nasional Gunung Palung, Pohon penghasil Gaharu yang sering ditemui adalah Aquilaria malaccensis, pohon ini mempunyai ciri khusus, yaitu : daun tunggal dan menyebar, pertulangan sekunder tidak jelas, ujung daun melancip, permukaan bawah daun mengkilat dan berwarna hijau pucat.
FAUNA
- Orangutan (Pongo pygmaeus)Orangutan hidup dan tersebar di hutan-hutan banyak di tumbuhi tanaman dari family Dipterocarpaceae.Orangutan tidur di dalam sarang, umumnya sarang berdiameter berkisar antara 1-2,5 meter dan ketinggian 10-30 meter. Orangutan dewasa lebih bersifat soliter, sedangkan Orangutan betina biasa berkelompok dengan kerabat yang masih satu keturunan. Anggota kelompok orangutan tidak melebihi lima individu.
- Bekantan (Nasalis larvatus)Satwa ini hidup endemik di Taman Nasional Gunung Palung dan hutan-hutan di kepulauan Kalimantan. Tidak heran, apabila Bekantan (Nasalis larvatus) dan Orangutan (Pongo pygmaeus) menjadi satwa primadona Taman Nasional Gunung Palung.
- Krabuku Ingkat (Tarsius bancanus): Krabuku adalah salah satu jenis primata berukuran kecil, merupakan jenis primata terkecil di dunia dengan berat tubuh hanya 10 gram. Satwa ini hidup aktif pada malam hari, sehingga biasa disebut satwa nokturnal. Makanan utama Tarsius adalah serangga besar, seperti semut, ulat, belalang, dan kecoa. Primata ini umumnya sering ditemukan di hutan yang ditumbuhi banyak penunjang kecil vertikal, seperti jahe liar dan pepohonan kecil.
- Klempiau (Hylobates agilis): Klampiau (Hylobates agilis) merupakan salah satu satwa liar yang hidup di Pulau Kalimantan, satwa ini termasuk dalam bangsa kera manusia dan biasa disebut dengan kera berlengan panjang. Satwa ini umumnya ditemukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 1 jantan dewasa, 1 betina dewasa, dan 1 - 3 anak. Tiap kelompok mempertahankan wilayahnya seluas 20 – 30 hektar. Makanan Klampiau terdiri dari buah-buahan berdaging yang masak, dedaunan muda, dan serangga kecil. Primata ini biasanya hanya ditemukan di hutan yang tinggi dan hutan Dipterocarpaceae.
POTENSI WISATA
Air Terjun Riam Berasap: Air terjun Riam Berasap merupakan daya tarik utama wisatawan pada site ini. Air terjun ini mengalir dan pada bagian hilir sering disebut masyarakat sebagai Sungai Siduk. Tinggi air terjun mencapai 10 m dengan lebar 5 m. Jatuhan air terjun membentuk kolam dengan luasan mencapai 300 m². Air terjun yang jatuh menyebabkan percikan air yang seakan-akan terlihat seperti asap. Oleh karena itu, air terjun ini dinamakan Riam Berasap. Badan sungai yang berbatu menambah keindahan panorama sungai dengan airnya yang jernih dan ikan-ikan khas yang berwarna-warni bisa kita lihat di sepanjang aliran sungai Siduk.
Riam BekinjilSepanjang Sungai Siduk ini banyak kita jumpai riam-riam, salah satunya Riam Bekinjil yang tidak kalah menariknya dengan Riam Berasap. Riam Bekinjil ini terletak di bagian hilir Riam Berasap. Badan sungai yang berbatu dan aliran yang deras dengan suara gemuruh yang ditimbulkannya memberikan nuansa alam yang indah.
Riam Kurung PelandukRiam lain di sepanjang aliran Sungai Siduk adalah Riam Kurung Pelanduk. Pemandangan di sekitar riam ini cukup menarik, dengan suara aliran sungai yang terdengar dari kejauhan. Bebatuan alami di aliran sungai mempercantik pemandangan di sekitar Riam Kurung Pelanduk.
Puncak Gunung PantiPuncak Gunung Panti mempunyai tipe ekosistem sub-alpin dengan tumbuhan yang semakin sedikit ragamnya dan diselimuti oleh lumut, udara yang semakin dingin, dan topografi yang makin terjal. Untuk mencapai puncak Panti sudah ada jalur pendakiaan sederhana dari Camp Penelitian Cabang Panti. Waktu tempuh yang diperlukan dari camp Cabang panti ke Puncak Gunung Panti + 6 jam dengan jalan kaki. Kegiatan ekowisata ke puncak panti sangat ideal bagi pelaku ekowisata yang menggemari kegiatan treking karena lokasinya yang cukup jauh dan keadaan hutannya yang masih bagus.
Air Terjun PantiSumber air berasal dari mata air di Gunung Panti. Air ini mengalir di bebatuan pegunungan yang terjal sehingga membentuk aliran yang memotong tebing. Air yang jatuh inilah yang biasanya disebut air terjun. Formasi bebatuan yang dialiri air ini merupakan fenomena alam yang sangat menarik untuk dinikmati disamping keadaan udara yang masih segar dan penutupan hutan yang masih bagus serta kehidupan satwa liar yang relatif tidak terganggu.

Share this article :

Poskan Komentar

Tinggalkan pesan dan kesan anda mengenai Obyek Wisata ini.